BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE PORTAL BERITA 'KAPAN LAGI"

Puluhan Mitra dan Yayasan MBG di Wonosobo Mengadakan Rapat Koordinasi Persiapan Aksi Damai dan Pengenalan Marketplace Dodolan



WONOSOBO - Seluruh Mitra/Yayasan yang tergabung dalam Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD_GEMAS) Kabupaten Wonosobo menggelar Rapat Koordinasi menyikapi Surat Edaran Kepala Badan Gizi Nasional Republik Indonesia Nomor 12 tahun 2026 serta adanya kebijakan-kebijakan Pimpinan BGN pasca penangkapan Pimpinan BGN dan pergantian Pimpinan BGN yang baru, Rabu (24/06/2026) malam.


Kegiatan tesebut dihadiri sedikitnya 50 perwakilan Mitra yang tergabung dalam Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD_GEMAS) Wonosobo. 


Andy Sahara Ketua HMD_GEMAS Wonosobo dalam sambutannya menyampaikan, “ HMD_GEMAS seluruh Indonesia telah melakukan rapat dan sepakat mengambil sikap protes terhadap Surat Edaran Kepala BGN RI No.12 Tahun 2026 yang bertentangan Perjanjian Kerja sama (PKS) antara BGN dan Yayasan/Mitra yang sudah ditandatangani dan berlaku hingga 31 Desember 2026. Dan SE tersebut juga bertentangan dengan Surat Keputusan Kepala BGN RI No.401.1 Tahun 2025 yang berlaku selama 2 tahun terhitung sejak 2025. “ 


Menyikapi himbauan aksi damai Mitra, Yayasan, Relawan SPPG, dan Supplier MBG pada tanggal 1 Juli 2026 di Senayan Jakarta, Andy memilih melakukan aksi damai bersama anggota HMD_GEMAS Wonosobo bersama relawan dan unsur-unsur Mitra Dapur di Wonosobo pada tnggal 1 Juli 2026. Ia akan melakukan koordinasi dan ijin kepada pemangku kebijkan dalam melaksanakan aksi damai mendukung Program MBG dan mendorong BGN lebih professional dalam tata kelola sehingga tidak merugikan Mitra dan masyarakat.


Andy juga berharap para Mitra / Yayasan yang ada di Wonosobo bisa kompak mendukung program MBG tetap dilaksanakan dan dipertahankan dalam perjuangan ini, serta peduli dengan aksi-aksi serta kegiatan-kegiatan organisasi yang akan dilakukan. 


Andy juga menegaskan bila ada SPPG yang tidak ada kepedulian dengan organisasi, pengurus tidak akan melakukan pendampingan atau advokasi bila terjadi persoalan.


Rapat Koordinasi berlangsung sangat hikmat dan para anggota Himpunan yang hadir sangat antusias dalam menyikapi persoalan yang muncul pasca pergantian pimpinan BGN akibat kasus yang sedang ditangani oleh Kejaksaan Agung.


Usai pengarahan dari Ketua HMD_GEMAS Wonosobo acara dilanjutkan dengan diskusi yang di Pandu oleh Moderator Tri Teguh W (Sekertaris HBD Gemas Kabupaten Wonosobo)


Diskusi diawali dengan sambutan dan arahan dari Kepala Bidang Hukum HBD Gemas Kab. Wonosobo Hendrawan. S.H.

Isi Sambutan :

1. Agar setiap Dapur menyiapkan dapurnya sesuai Juknis yang terbaru, hal ini untuk menghindari “Suspen”, karena kalau sudah tersuspen akan menghambat operasional dapur dan merugikan Mitra sendiri.

2. Dihimbau apabila ada dapur yang terkoneksi dengan oknum-oknum yang memanfaatkan mitra untuk mendapatkan keuntungan melalui berbagai bentuk seperti atensi, setoran dan yang lainnya, untuk saat ini agar dihentikan/tidak memberikan, jika hal ini tetap dilakukan maka akan membahayakan Mitra/Investor apabila ada sidak/audit.

3. Laporkan jika ada Oknum-oknum yang berniat memeras, mengintimidasi para Mitra, laporan bisa ke Pengurus HMD Gemas atau Aparat penegak hukum.

4. Terkait SE No 12 tahun 2026, bahwa SE ini adalah kebijakan yang Blunder, dan dari Himpunan Gemas Pusat sedang melakukan Somasi kepada BGN untuk menganulir SE tersebut.

5. Bangun hubungan baik, komunikasikan dengan baik dengan Ka SPPG sehingga terbangun harmonisasi.


Dalam diskusi Budi Rohmadi salah satu Mitra dari SPPG Kalibawang mendorong adanya gerakan Aksi Damai ( Show Force ) dengan tema dukungan terhadap Presiden Prabowo untuk tidak menghentikan Program MBG, dan untuk tetap dijalankan Program MBG, yang pelaksanaannya pada tanggal 1 Juli 2026 sebagai Gerakan Nansional.


Budi berpesan kepada pengurus untuk teknis pelaksanaan dimohon pengurus untuk segera mengkoordinasikannya.


Dari SPPG Purwojiwo, Syukur berpendapat, prinsipnya mendukung Aksi Damai, dan tiap dapur untuk memberangkatkan semua relawannya untuk menjadi peserta Aksi tersebut dengan menggunakan atribut kaos masing-masing SPPG. 


Syukur juga berharap Pengurus diminta untuk melakukan pendampingan terhadap Dapur-dapur yang terkena Suspen.


Sementara Sutrisno dari SPPG Kembaran Kalikajar Wonosobo berharap organisasi yang ada agar bisa memeberikan rasa nyaman dan melindungi dapur-dapur yang ada.


Ia juga berharap pengurus juga melakukan pendampingan terhadap dapur-dapur yang akan Running dan masih terkendala beberapa kondisi.


Dikatakan Andy selaku Ketua HMD Gemas Wonosobo bahwa pengurus saat ini selalu berkoordinasi dengan organisasi diatasnya sampai dengan DPP Gemas sebagai matarantai kekuatan untuk pergerakan dan penguatan para Mitra dapur.


“ Pengurus berencana akan melakukan kunjungan ke dapur-dapur yang mengalami kendala untuk melakukan investigasi, yang kemudian akan membantu meberikan solusi. Pengurus selalu membuka form Diskusi dan penyampaian informasi secara reeltime melalui WA Group, dan dimohon bagi para anggota mitra dapur bisa memanfaatkan fasilitas tersebut. “ Ujar Andy.


Disaat yang sama Andy juga menghimbau kepada Mitra dapur yang belum aktif dalam organisasi/belum masuk dalam group, dimohon segera bergabung untuk penguatan dan kepentingan bersama.


Untuk mencairkan acara, ditempat yang sama HMD_GEMAS Wonosobo menghadirkan Penyedia E-Commerce  Marketplace yang bernama dodolan.co.id dari kota gudeg Yogyakarta. 


Dodolan hadir di Wonosobo sebagai jembatan yang menghubungkan Dapur MBG (Makan Bergizi Gratis), koperasi, institusi, komunitas, serta berbagai pelaku usaha dengan supplier terpercaya dari berbagai sektor, mulai dari petani, peternak, nelayan, UMKM, kelompok tani, koperasi, distributor, hingga produsen skala besar. 


Dodolan merupakan platform marketplace B2B yang lahir di Yogyakarta pada tahun 2026 dengan tujuan membangun ekosistem pengadaan pangan yang lebih terhubung, transparan, dan berkelanjutan bagi seluruh pelaku rantai pasok pangan di Indonesia.


Hapsoro salah satu pendiri dodolan.co.id yang juga petani dan tokoh desa penggerak pertanian di Klaten menyampaikan, “ Mitra selaku menyedia bahan baku di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus melakukan belanja setiap hari dimana kebutuhan dapur sangat besar, harga sering berubah, sulit mencari supplier terpercaya, serta belum adanya system yang menghubungkan dapur dengan supplier secara langsung.” Ungkapnya.


“ Dodolan hadir sebagai marketplace B2B yang mempertemukan Dapur MBG dan SPPG seluruh wilayah, Supplier lokal terpercaya dari berbagai daerah, Distributor dan Grosir untuk kebutuhan Dapur MBG, Petani Peternak UMKM penghasil produk pangan, Bumdesma sebagai penggerak ekonomi desa, koperasi sebagai mitra pengadaan dan distribusi. Semua itu terhubung dalam satu platform terintegrasi sehingga lebih efisien, transparan dalam satu sistem. “ terang Hapsoro salah satu narasumber dai dodolan.


Sementara Narasumber lain dari dodolan Imam Jarkasi menegaskan, “ E-Commerce membantu program  BGN berjalan lebih efektif, akuntable, dan berkelanjutan. “ 


Imam membandingkan jika Dapur MBG melaksanakan transaksinya belanjanya secara manual akan sulit membandingkan harga, sulit memonitor supplier, administrasi tidak tertata, potensi keterlambatan pengiriman sering terjadi. Sedang bila dilakukan melalui E-Commerce akan effisien proses pengadaan bahan bakunya, transparan transaksinya, ada jejak digitalnya, dataq kebutuhan dapur dapat dianalisi, sehingga bila terdapat sidak pemeriksaan, mitra bisa mempertanggung jawabkan dengan data yang ada secara akuntable dan transparan.


Nara Sumber lain Edy Sadmoko, salah satu pendiri dodolan yang juga memiliki Dapur MBG menceritakan pengalamannya.

“ Kendala yang sering terjadi pada SPPG adalah supplier mendadak barang kosong, harga naik turun, pengiriman terlambat, sulit mencari alternative supplier yang terpercaya. Permasalahan dalqam menentukan supplier antara Ka.SPPG, Mitra, dan Yayasan sering terjadi diakibatkan oleh belum adanya data supplier terpusat, pemilihan sering berdasarkan jaringan masing-masing, sulit membandingkan harga dan kwalitas supplier, potensi perbedaan keputusan antara Ka. SPPG, Mitra, dan Yayasan, sulit monitoring kinerja supplier, tidak adanya histori transaksi sebagai bahn evaluasi, resiko ketergantungan terhadap supplier tertentu. “ tutur Edy.


Menurut Edy, masalah pengadaan bukan hanya soal mencari supplier, tetapi juga menentukan supplier yang tepat harga, tepat kwalitas, dan tepat waktu. Pengadaan yang tidak terstruktur menurut Edy Sadmoko menyebabkan proses tidak efisien, biaya membengkak, dan resiko gangguan pasokan yang tinggi.


Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama seluruh mitra / yayasan yang hadir beserta tim dodolan.



(Penulis; Hendrawan) 

Red-Spyd

Posting Komentar

0 Komentar