BREAKING NEWS

10/recent/ticker-posts

Right Button

test banner SELAMAT DATANG DI WEBSITE PORTAL BERITA 'KAPAN LAGI"

Cegah Karhutla di Musim Kemarau, Dit Intelkam Polda Jateng Tanam 1.000 Pohon Kopi di Lereng Gunung Sumbing Magelang



Polda Jateng – Polresta Magelang | Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah bersama jajaran dan sejumlah elemen masyarakat menggelar kegiatan Sapa Semesta dengan menanam 1.000 pohon kopi dan tanaman keras lainnya di kawasan lereng Gunung Sumbing, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, Jumat (28/8/2026).


Kegiatan yang berlangsung di Nestra Wellness Café, Dusun Gendol, Desa Sukomakmur, tersebut mengusung tema “Jangan Bakar Hutan dan Lahan, Wujudkan Lingkungan Aman, Sehat dan Lestari”.


Penanaman pohon ini menjadi bagian dari upaya bersama mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama memasuki musim kemarau yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran di kawasan terbuka maupun lereng pegunungan.


Kegiatan tersebut melibatkan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lereng Gunung Sumbing dan Universitas Negeri Semarang (UNNES), serta unsur pemerintah, TNI, Polri, pemerintah desa, pelaku usaha dan masyarakat.


Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur Intelkam Polda Jawa Tengah Kombes Pol Syahbuddin, S.I.K., Ketua PUI PT Pasca Panen Kopi dan Rempah Co. Spice UNNES Dr. Eka Yuli Astuti, S.Pd., M.A., Direktur Utama/CEO PT Nestra Kottama Indonesia Sigit Ismaryanto, perwakilan BKSDA Jawa Tengah, Pj. Sekda Kabupaten Magelang David Rubiyanto, S.T., M.T., Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri, S.I.K., perwakilan Kodim 0705/Magelang, Distan Pangan Kabupaten Magelang, Forkopimcam Kajoran dan sekitar 50 peserta.


Peserta berasal dari unsur dinas pertanian, pemerintah desa, Gapoktan, kelompok wanita tani, karang taruna hingga barista.


Polda Jateng Ingatkan Ancaman Karhutla


Direktur Intelkam Polda Jawa Tengah Kombes Pol Syahbuddin, S.I.K. mengatakan, Kabupaten Magelang merupakan wilayah yang memiliki kekayaan alam luar biasa karena dikelilingi sejumlah gunung. Kondisi tersebut sekaligus membutuhkan kepedulian bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan.


“Terlebih saat ini kita memasuki musim kemarau. Di beberapa wilayah ada titik api dan kemungkinan penyebabnya bisa karena faktor alam atau karena ulah manusia,” ujar Syahbuddin.


Menurutnya, pencegahan karhutla harus dilakukan sebelum kebakaran terjadi. Masyarakat tidak boleh hanya bergerak ketika sudah muncul titik api.


“Jangan sampai kita menunggu terjadi kebakaran terlebih dahulu baru kemudian melakukan tindakan. Mari kita bersama-sama melakukan pencegahan sejak dini, salah satunya dengan menjaga dan menghijaukan lingkungan melalui kegiatan penanaman pohon,” katanya.


Syahbuddin juga mengajak masyarakat, khususnya para pelaku sektor pertanian dan pariwisata, untuk ikut menjaga kelestarian lingkungan.


Keberlangsungan pertanian, pariwisata dan kehidupan masyarakat, kata dia, sangat bergantung pada lingkungan yang aman, sehat dan lestari.


Ia turut mengingatkan bahwa karhutla dapat bermula dari hal kecil yang kerap dianggap sepele.


“Kita juga harus menyadari bahwa kebakaran dapat berawal dari hal-hal yang terlihat kecil. Misalnya, puntung rokok yang dibuang sembarangan dapat menjadi salah satu sumber munculnya api,” tegasnya.


Syahbuddin menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, TNI, Polri, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas dan masyarakat dalam melakukan pencegahan karhutla.


“Pencegahan kebakaran hutan dan lahan tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Pemerintah, TNI, Polri, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas, serta seluruh masyarakat harus memiliki kepedulian dan tanggung jawab bersama,” ungkapnya.


Ia berharap seluruh unsur dapat bersama-sama menjaga, mengawasi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Magelang.


“Pada prinsipnya, mencegah jauh lebih mudah dan lebih murah daripada menanggulangi dampak yang ditimbulkan setelah kebakaran terjadi,” jelasnya.


Syahbuddin menegaskan, kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni.


“Ini bukanlah start atau awal dari pencegahan karhutla, tetapi merupakan bagian dari upaya berkelanjutan yang harus kita lakukan bersama,” katanya.


Kapolresta Magelang Dukung Pencegahan Karhutla


Kapolresta Magelang Kombes Pol Edy Bagus Sumantri, S.I.K. turut hadir dalam kegiatan Sapa Semesta tersebut sebagai bagian dari dukungan jajaran Polresta Magelang terhadap upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kabupaten Magelang.


Kombes Pol Edy Bagus Sumantri mengatakan, pencegahan karhutla membutuhkan sinergi dan kepedulian seluruh elemen masyarakat.


“Pencegahan karhutla membutuhkan sinergi dan kepedulian bersama. Tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun aparat, tetapi juga seluruh masyarakat yang berada di sekitar kawasan hutan dan lahan,” ujar Edy.


Menurutnya, langkah pencegahan harus dilakukan sejak dini melalui edukasi, pengawasan lingkungan serta peningkatan kepedulian masyarakat terhadap potensi munculnya api.


Penanaman pohon dalam kegiatan Sapa Semesta juga menjadi langkah positif untuk menjaga kelestarian kawasan lereng Gunung Sumbing sekaligus membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga lingkungan.


“Melalui kegiatan seperti ini, kita tidak hanya menanam pohon, tetapi juga menanam kesadaran bahwa lingkungan harus dijaga bersama. Pencegahan jauh lebih baik daripada kita harus menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan,” katanya.


Polresta Magelang juga mendukung koordinasi lintas sektor bersama pemerintah daerah, TNI, pemerintah desa, kelompok tani, relawan dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi karhutla.


Masyarakat diimbau tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan dan lebih berhati-hati terhadap sumber api, termasuk puntung rokok yang dapat menjadi pemicu kebakaran ketika kondisi lingkungan kering.


Pemkab Magelang Apresiasi Gerakan Sapa Semesta


Sementara itu, Bupati Magelang yang diwakili Pj. Sekda Kabupaten Magelang David Rubiyanto, S.T., M.T. menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Intelkam Polda Jawa Tengah atas prakarsa dan kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan.


Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen bersama dalam mengantisipasi bencana ekologis, khususnya karhutla yang rawan terjadi selama musim kemarau.


“Gunung Sumbing bukan hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga merupakan bagian penting dari ekosistem yang menopang kehidupan masyarakat di sekitarnya,” kata David saat membacakan sambutan Bupati Magelang.


Kawasan Gunung Sumbing memiliki peran penting dalam menjaga sumber air, kesuburan tanah dan keseimbangan lingkungan.


Karena itu, kelestariannya merupakan tanggung jawab bersama.


David juga menyoroti ancaman sampah di kawasan pendakian serta kerentanan lahan terhadap kebakaran.


“Melalui penanaman seribu pohon, kita menanam harapan sekaligus memperkuat lingkungan bagi generasi mendatang,” ujarnya.


Ia meminta agar kegiatan penghijauan tidak berhenti pada seremoni penanaman.


Pohon yang telah ditanam harus dirawat, sementara kawasan yang telah dibersihkan harus terus dipelihara dan dilindungi dari tindakan yang tidak bertanggung jawab.


Nestra Telah Tanam 3.000 Pohon


Direktur Utama/CEO PT Nestra Kottama Indonesia Sigit Ismaryanto menyampaikan apresiasi atas keterlibatan berbagai pihak dalam kegiatan tersebut.


Ia mengatakan, Nestra Wellness Café berkomitmen membangun sinergi dengan pemerintah, aparat keamanan, perguruan tinggi dan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus mengembangkan potensi ekonomi lokal.


“Kami ingin terus membangun sinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, aparat keamanan, perguruan tinggi, maupun masyarakat,” kata Sigit.


Menurutnya, kawasan Sukomakmur saat ini tengah ditata sebagai sebuah ekosistem yang tidak hanya mengedepankan sektor wisata, tetapi juga kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.


Sigit menyebut pihaknya telah berkontribusi dalam penanaman sekitar 3.000 pohon.


“Nestra berkontribusi menanam sebanyak 3.000 pohon dan saat ini sudah berubah, meskipun pohonnya kecil tetapi sudah berbuah,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan pentingnya mengubah kebiasaan masyarakat dalam mengelola lingkungan, termasuk persoalan sampah dan potensi kebakaran akibat puntung rokok.


Nestra, kata Sigit, juga berupaya memberikan contoh dalam pengelolaan lingkungan, termasuk penataan cerobong asap serta pengelolaan sampah agar tidak dilakukan dengan cara yang berpotensi menimbulkan pencemaran maupun kebakaran.


Dorong Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat


Selain penghijauan, Nestra juga mendorong berbagai program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.


Salah satu yang sedang dikembangkan yakni pemanfaatan lokasi tersebut sebagai rumah tempe yang diharapkan dapat menjadi sarana pengembangan ekonomi masyarakat dan mendorong kemajuan wilayah Sukomakmur.


“Kami ingin agar segala potensi yang ada di wilayah ini dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” jelas Sigit.


Ia juga berharap setiap dusun di Desa Sukomakmur dapat memiliki perwakilan dalam berbagai kegiatan pemberdayaan masyarakat sehingga manfaat program dapat dirasakan secara lebih merata.


Selain pemberdayaan ekonomi, Nestra melalui Yayasan Budaya juga membina kelompok-kelompok seni dari Desa Sukomakmur.


Sigit berharap Desa Sukomakmur dapat menjadi salah satu kawasan penyangga wisata Borobudur dengan mengembangkan potensi alam, budaya, ekonomi kreatif dan masyarakat.


Serahkan Bibit dan Peralatan


Dalam kegiatan Sapa Semesta tersebut juga dilakukan penyerahan bantuan berupa bibit tanaman, alat pertanian dan alat pengolah kopi kepada masyarakat.


Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penanaman bibit kopi dan tanaman keras lainnya.


Peserta juga melakukan aksi bersih lingkungan di sekitar lokasi sebagai bagian dari upaya menjaga kawasan tetap bersih sekaligus mencegah potensi karhutla.


Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.15 WIB tersebut berlangsung hingga pukul 11.00 WIB. Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, lancar dan kondusif.


Perawatan Pohon Jadi Kunci


Penanaman 1.000 pohon di lereng Gunung Sumbing diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan simbolis. Pemeliharaan pascapenanaman menjadi faktor penting agar bibit yang telah ditanam dapat tumbuh optimal.


Monitoring secara berkala, penyulaman terhadap bibit yang mati serta perawatan tanaman perlu dilakukan secara berkelanjutan.


Selain itu, penguatan kelompok masyarakat peduli lingkungan dan karhutla juga diperlukan untuk membantu melakukan pemantauan kawasan rawan kebakaran.


Sosialisasi larangan pembakaran hutan dan lahan juga perlu terus dilakukan, khususnya menjelang dan selama puncak musim kemarau, dengan melibatkan Bhabinkamtibmas, Babinsa, pemerintah desa dan kelompok tani.


Pemetaan wilayah yang memiliki potensi kerawanan kebakaran di kawasan lereng Gunung Sumbing serta penguatan deteksi dini juga menjadi langkah penting.


Kolaborasi Polri, TNI, pemerintah daerah, BPBD, pemerintah desa, Gapoktan, perguruan tinggi, relawan dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan karhutla di Kabupaten Magelang.


Sebab, menjaga hutan dan lahan bukan hanya soal mencegah kebakaran, tetapi juga menjaga sumber air, lingkungan, pertanian, pariwisata serta kehidupan masyarakat untuk generasi mendatang.


Red-Spyd

Posting Komentar

0 Komentar